Pages

Rabu, 17 April 2013

Homesick

Lately, gue ngerasain hal hal yang bener bener aneh. Ga aneh juga sih, tapi ya gitu ganjil. Pernah ga sih ngalamin lo jauh banget dari "rumah" tapi lo berasa bener bener lagi dirumah. Atau jangan jangan homesick gue bertambah parah ? hmmm bisa jadi. Tapi ini udah hari ke lima gue ngerasain kaya gini. Bener bener kangen "rumah" bukan sekedar rumahnya doang. Kangen tinggal sama keluarga, kangen rasanya ngerasain bener bener pulang kerumah, bukan kosan atau kontrakan atau rumah uak. Kangen ngerasain pulang kerumah ga boleh kemaleman, kangen dianterin papa ke sekolah, kangen salim sama orang tua kalo pergi ke sekolah, kangen dikasih uang jajan langsung, kangen ngejailin ade, kangen sama suasana komplek, kangen masakan mama, kangen makan malem diluar sama keluarga, kangen jalan jalan sama keluarga. Walaupun kadang kadang suka pulang kerumah, tapi udah beda. Udah ga kaya dulu.

Mungkin gara gara homesick belakangan ini gue jadi sering ngerasa kaya lagi di"rumah". Bahkan jadi sering keinget moment moment dulu, ada beberapa yang sempet gue lupa jadi inget lagi. Bukan cuma sekedar inget, tapi jadi lebih berasa kaya ngalaminnya lagi. Apalagi kalo liat temen yang sering bolak balik kerumah. Benci ngeliatnya. Bentar bentar pulang, manja. Tapi entah benci atau iri beda tipis. Benci juga ngeliat keluarga atau orang tua yang terlalu manjain anaknya. Bentar bentar cemas anak nya kenapa-napa, bentar bentar nelfon, bentar bentar sms. Entah yang ini benci atau iri juga.

Ya allah, saya ingin pulang, mungkin kali ini saya bener bener udah cape. Saya takut. Saya mau pulang. Saya butuh keluarga, walaupun juga dirumah ga terlalu diperhatiin tapi saya masih ngerasa ada yang ngejagain.

Senin, 01 April 2013

Wings To Fly

Aku bosan dengan daya tarik gravitasi. Terlalu menarik kencang, terjerembab dalam tanah. Seperti akar yang beranak didalamnya. Sayang, aku ingin pergi. Aku menggapai-gapai mencari pegangan. Hampa. Aku hanya menggapai udara. Tak satupun yang dapat kuraih. Sayang, aku ingin pergi. Sesak, aku sudah terkubur terlalu dalam. Aku menggeliat, berusaha keluar. Ku dongakkan kepalaku, langit terlihat lebih bersahabat. Tidak ada unsur yang mengikat. Langit begitu luas. Sayang, aku ingin pergi.

Jika sekarang satu permohonanku dikabulkan, aku hanya berharap punya sayap. Aku tidak ingin menjejalkan kaki lagi. Aku tidak ingin berkutat dengan gravitasi. Aku ingin bebas. Sayap. Bawa aku ke angkasa. Aku ingin menjadi seperti angin, menari, melenggang kemanapun ia mau. Bahkan aku ingin sekaligus menjadi buta, aku tidak ingin tau ke arah mana aku akan berlalu. Aku ingin benar benar bebas. Menjadi kekasih semesta. No more sadness, no more pain. No more anger, no more hate. Just fly.

Aku sudah siap. Benar benar siap. Sayang, aku ingin pergi. Kepenatan ini memberikan ku bekal mental. Aku sudah muak berkemelut di bumi. Tunggu! Sayang ? aku bicara dengan siapa ? 

Sabtu, 09 Maret 2013

Untitled XVII

Biru. Kita ini sama. Tentu saja sama. Sama sama berwarna biru. Hanya saja kau samudera dan aku angkasa. Kamu begitu dalam. Ada hitam yang berlindung di palungmu. Aku tak sanggup membiaskan cahaya untuk melihatnya. Kadang ku kirimkan angin untuk mengaduk lautmu, tapi tak bisa biru. Kau tak bergeming. Baru kali ini aku tidak bisa membaca. Terkadang aku hampir melihat pekat mu. Tapi aku salah. Kau cuma memantulkan apa yang aku inginkan. Aku lupa, kau adalah samudera, cermin terbesar dunia. Kau hanya merefleksikan gerak ku. 

Biru. Aku mengirimkan pesan melalui hujanku. Tapi kau tak bergeming. Hanya menimbulkan riak riak kecil pada permukaanmu. Bahkan kau mengembalikannya. Hanya hujan cara kita berkomunikasi. Kau menampungnya, tapi tidak membacanya.

Ada kala dimana semua hening. Tak ada awan didiriku. Kau pun tidak menimbulkan ombak. Kita terlarut dalam badai serotonin. Bahasa kita melebur, menjadi senyap. Kita tampak seperti satu. Ah tapi tak mungkin biru. Jika aku si angkasa menyatu denganmu, mau jadi apa ? kiamat ?


Selasa, 04 Desember 2012

Catatan Kepada Warna Biru

Memang, harus ada jarak. Karena ini bukanlah yang biasa. Aku berpesan seakan besok akan menghilang. Aku ini terlalu bodoh memutuskan. Aku tahu bagaimana akhirnya, tapi aku ini kan bodoh, jadi aku memulai saja. Tidak apa, selama tidak ada yang tahu. Seringkali aku memancing dimuaramu yang tak ber Ikan. Sembari melajukan haluanku, aku berkaca pada air mu yang tenang. Bersih. Tak tersentuh. Tapi, bercerminpun aku terlalu takut. Oh, betapa bodohnya. Aku tau ini yang akan terjadi.

Aku tak mau meninggalkan muara mu. Ada yang menarik disini. Entah itu apa. Kepolosanmu atau ya entah apalah itu. Terkadang aku sudah berkemas pulang, bahkan sudah kuputar haluan. Tetap saja, muara mu memikat. Lantas kulemparkan kail ku pada air mu, aku tau tidak ada ikan. Tapi aku ingin. Walau hanya berdiam, mungkin itu waktu tersibukku. Oh, betapa bodohnya. Aku tau ini yang akan terjadi.

Hingga akhirnya, aku mulai takut. Muara ini tidak begitu cerah, bahkan langit sedang bergemuruh. Ku lemparkan kail terakhir, bodoh, haha kail itu menyangkut di dahiku. Sudahlah, ini muara tak bertuan. Aku tidak ingin menimbulkan riak pada airmu. Biarkan perahu ku melenggang senja, hingga kau muara tenang. Kubiarkan kau berdendang dengan diam mu. Aku bukan tidak perduli, hanya saja aku sedang berlomba. Melawan arusmu dengan menarik dahiku yang tercatut kail.   

Curhatan di Kamar Kos Lantai 3

Aku sudah muak dengan kalimat halus, kalimat yang seakan tertutur rapi, halah, omong kosong. Nilai saja aku. Anggap aku gila, anggap aku banci. Itu ? Tapi apa kalian tau siapa aku ? bahkan batu tidak lebih keras. Aku ini punya luka. Luka yang hanya diketahui Tuhan. Aku ini lelucon. Bahkan orang hanya terbiasa melihatku tertawa. 

Dulu tangis saban hari, kini ? tidak cukup untuk membuat mata mu basah. Dulu, aku nampak dilindungi oleh harapan harapan bangsat yang tak semestinya ada. Anggap aku bodoh, lalu ? perduli apa kalian ? aku ini berbeda, bahkan kalian jangan bangga sudah mengenalku bertahun tahun. tak berguna, aku ini berbeda. Tak akan pernah sama. Ada sosok yang mengeras hingga aku pun susah melunakkannya.

Sudah kubilang aku ini berbeda. Jangan pernah samakan lelucon mu denganku. Atau mungkin jadikan aku bahan lelucon yang lebih menarik. Aku ini suka menimbun, kalu kau tidak ingin melihat akhirnya, jangan memulai. 

Anggap aku gila, aku ini terlalu bodoh dalam mencinta. Hidup sudah tergulung, tambah cinta yang kian bergelung. Hahaha kini bilang aku gila. Lalu, perduli apa kau ? Aku ini miliarder, yang menimbun begitu banyak kalut. Kutimbun hingga hatiku turut berlutut.

- kemasukan setan kos -